Widget HTML Atas

Hati yang Kau Tinggal

HATI YANG KAU TINGGALKAN
Cerpen Cinta Sakit Hati




Hari ini matahari begitu cerah. Langit-langit berwarna biru laut tanpa banyak gumpalan putih disekitarnya. Tak ada yang kelabu, semuanya tampak sama dan bahagia.

Di tempat ini pun semuanya tampak sama, tak banyak yang berbeda. Hari ini sama seperti hari kemarin! Itu lah doktrin yang selalu kucoba tanamkan dalam diriku sendiri.

Tapi sepertinya semuanya memang lah berbeda. Ada yang hilang dari hidupku. Tapi apa itu, kenapa separah ini perasaan itu menghantui ku.

Aku duduk dibawah pohon yang rimbun didepan kelas. Kupandangi para mahasiswa yang sedari tadi sudah lalu lalang di kampus. Sambil berharap semoga keajaiban datang.

Keajaiban dimana aku bisa melihat dia kembali. Dia lah sosok yang selama ini tak pernah ku hiraukan, tapi sekarang, begitu kuharapkan. Suara mahasiswa yang melintas di kampus terasa sangat bising.

Entah apa yang mereka katakan dan apa yang mereka tawakan tidak begitu jelas masuk ke telingaku. Suara dan tawa mereka tidaklah lebih bising di banding hatiku ini.

Hati yang sampai sekarang masih belum tahu dan belum menemukannya. Apa yang sebenarnya hilang? Dan apa yang sebenarnya ku inginkan?

Angin berhembus lembut menyapu tubuhku, kesejukannya mengelus mesra kulitku. Perlahan angina mempermainkan rambutku dengan lembut, mengusik wajahku. Tapi itu semua tidak menggubrisku, aku sibuk dengan segala yang ada didalam pikiranku. Pandanganku tertunduk kebawah kearah tali sepatuku.

Kemanapun aku berlari, dia seperti mengejarku.  Sekuat apapun aku menekan bayangannya, dia selalu muncul. Tapi semuanya seakan sudah sangat terlambat. Saat aku ingin mengakuinya dan ingin segera membebaskannya, semua sudah tidak berarti lagi.

Aku pun bingung langkah apa yang harus ku ambil. Oh Tuhan, berikanlah petunjuk-Mu. Aku menatap ke depan, masih banyak mahasiswa yang lalu lalang. Kebisingan fikiranku membuat aku tidak memperhatikan sekeliling.

Sebelumnya aku tidak pernah membiarkan diriku segalau ini. Duduk termenung menyendiri, dan begitu lesuh. Saat otak normalku bekerja, aku merasa miris dengan kondisi ku sekarang. Tapi apa yang bisa ku perbuat tidak lah banyak. Hanya membiarkan diri ini tersiksa karena kebodohan yang selama ini selalu ada.

Aku bangkit dari dudukku, aku berjalan menyusuri koridor kampus. Ku lihat ruang kelas masih sepi. Masih belum banyak mahasiswa yang masuk ke dalam kelas. Aku masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku depan.

Perlahan teman-temanku mulai masuk ke dalam ruang perkuliahan. Suasana sudah mulai ramai dengan mahasiswa. Tapi meskipun sudah banyak suara di ruangan ini, hatiku masih tetap saja sepi.

Aku merindukan suara yang lain dengan suara-suara ini. Aku merindukan suara yang dulu selalu menggangguku. Mengusikku dan membuat senyum mengambang di wajahku.

Karin, aku duduk disamping kamu ya itu lah yang selalu dia katakana padaku. Tapi dulu aku terlalu cuek. Dulu aku merasa terganggu dengan setiap sapaan dan candaanmu.

Tapi kenapa sekarang aku menjadi tersiksa dengan tidak adanya itu semua. Seharusnya aku merasa lega karena itu semua sudah tidak ada. Tapi kenapa sekarang menajadi seperti ini. Ada kekosongan yang seharusnya kau isi dengan sapaan dan candaanmu.

Ketika dosen masuk ke dalam kelas dan perkuliahan segera dimulai, aku mencoba berkonsentrasi. Terasa sulit sekali memang, tapi aku terus berusaha. Sesekali bayangan itu muncul.

Aku mencoba menepisnya, lalu bayangan itu datang lagi, kutepis lagi. Selalu seperti itu sampai perkuliahan selesai. Begitu dosen keluar kelas, aku juga ikut berjalan ke luar kelas.

Tanpa sadar, aku berjalan menuju lapangan yang terlihat begitu sepi. Aku tidak tahu kenapa aku berjalan kesini. Aku duduk di sisi lapangan sembari menatap lekat kearah lapangan. Tidak ada satu orang pun yang sedang bermain basket disana.

Yang ada hanyalah bayangan tentang dirinya. Bayangan seseorang yang sedang berlari, melompat, lalu tertawa. Ku ulurkan tanganku kearah bayangan itu. Ku coba meraih bayangan itu dengan tanganku.

Tapi bayangan itu menghilang tanpa sempat ku sentuh. Aku tersadar, cairan bening membasahi pipiku. Entah kenapa aku menangis. Maaf Andre… ucapku lirih. Cuaca yang terik sama sekali tidak mampu menggeser posisiku. Entah ada apa, aku merasa betah dan nyaman duduk di sisi lapangan ini.

***

Aku duduk di hadapan Selly di sebuah cafe dekat kampus. Selly adalah temanku dari SMA sampai sekarang. Mungkin namanya adalah satu yang terbaik dari deretan nama-nama lain yang harus ku temui ketika kondisiku seperti ini.

“Mungkin itu hanya perasaan bersAlah yan” Ujar Selly.
“Bersalah? Memang apa yang sebenarnya sudah kulakukan sampai aku harus merasa bersalah?”  ucapku sembari mengarahkan mata ke luar jendela.

“Ya karena selama dia disini kamu itu cuek sama dia.”
“Ah, tapi bukan hanya dia kok yang aku cuekin. Masih banyak cewek lain yang aku cuekin dan aku biasa saja.” Ucapku kembali mengarahkan pandanganku pada Selly

“Terus menurutmu apa?”Tanya Selly padaku. Aku hanya menggeleng tanpa suara.
“Kamu merasa kehilangan?” Ucap selly dengan tatapan tajam. Kehilangan? Benarkah? Kenapa aku harus merasa kehilangan?

“Kamu jatuh cinta sama Jasmin” Ucapan Selly kali ini membuyarkan beberapa pertanyaanku. Ku tatap lekat wajah Selly, dan dia hanya tersenyum.

“Jatuh cinta?” Ucapku. Selly mengangguk
“Dengan Jasmine?” Tanya ku lirih.
“Emang ada apa sama Andre, kenapa kamu keberatan kalo dibilang jatuh cinta sama dia?”. Aku hanya menggeleng dalam diam.

Jatuh cinta? Sungguh? Ya kurasa memang aku sudah jatuh cinta. Teringat sosok AndreJasmine, Wanita ramah yang selalu tersenyum meski aku acuh padanya, bahkan terkadang aku ketus padanya.

Dia memang tidak sekeren Momo, tidak setajir Mita, juga tidak secerdas Nanda. Tapi dia tulus, aku tahu itu. Aku bisa merasakan setiap ketulusan-nya. Dan karena ketulusan-nya itu lah dia sekarang menjadi begitu special di mataku.

Tapi pengakuanku sepertinya memang sudahlah sangat terlambat. Jasmin kini sudah pergi bersama beasiswa dan juga mimpinya. Aku mungkin hanya terpisah oleh jarak, tapi apakah aku bisa memberikan pengakuan ini padanya.

Saat dia kembali nanti mungkin dia sudah bukan untukku. Dia sudah meninggalkan hati ini. Ingin sekali rasanya aku membunuh perasaanku padanya. Tapi, hati kecilku berkata jangan.

Hati kecilku memerntahkan ku untuk terus menyimpannya. Rasa ini adalah anugerah, anugerah yang begitu besar. Meski rasa ini harus menghantui dan menorah luka dihati ini. Hati yang sudah kau tinggalkan.


######THE END#####